Kamis, 20 Oktober 2011

SAPALA KAMUFISA Rela Kehilangan Nyawa Untuk Keselamatan Ustadz Abu Bakar Baasyir


Surakarta- Persidangan Perdana Ustadz Abu Bakar Baasyir batal digelar Kamis (10/02) kemarin. Tak kurang dari 1000 pendukung beliau yang merupakan gabungan dari berbagai elemen ummat Islam, dengan dijaga sekitar 3000 petugas pengamanan tumpah ruah turut meramaikan sidang tersebut.
Kamis itu genap 185 hari Ustadz Abu (demikian beliau biasa dipanggil) ditangkap dan didzalimi untuk ke dua kalinya oleh rezim penguasa di era reformasi ini, selama itu pula beliau meninggalkan santri-santri yang disayanginya di Ponpes Al Mukmin, Ngruki.
Bagaimana kabar para santri dari ponpes yang tak bisa dilepaskan dari sosok Ustadz Abu Bakar Baasyir ini?
Untuk mengintip dan menangkap fakta ini, kami mencoba bertandang dan melakukan intervew langsung dengan salah satu unit khusus dalam pembinaan fisik dan ruhiyyah jihadiyyah SAPALA KAMUFISA (Santri Pecinta Alam Kader Mujahidin Fi Sabilillah) Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Surakarta, yang hanya memberikan kesempatan kepada 60 personil yang dirasa layak dari 500 santriwan yang ada untuk bergabung dalam komunitas khusus tersebut, setelah melalui tes dan seleksi standar yang telah ditetapkan tentunya.
Rois/Munsiq (instruktur) SAPALA KAMUFISA brig- 20 angkatan-21, Ahmad Ardan (17) menjadi narasumber dalam intervew kami kali ini.
Jurnalislam (JI): Apakah Peristiwa penagkapan Ust. ABB membawa pengaruh terhadap ma`had termasuk SK, terkhusus dari sisi emosional?
Ahmad Ardan (AA): Jelas, kami sangat merasa kehilangan, sangat marah  karena beliau adalah ust yang sangat kami cintai, dan kami tidak pecaya sama sekali  Ust. ABB dituduh Teroris seperti itu, karena keseharian beliau tidak mengarah pada hal itu, selama kami di sini tidak pernah  melihat sama sekali Ust melakukan teror.
JI: Dalam rutinitas sehari-hari, apakah ada perubahan sebagai dampak dari penangkapan ini?
AA: Tidak, kami beraktifitas seperti biasa, hanya saja lebih waspada dalam masalah keamanan dan SK lebih waspada lagi.
JI: Apa ada tugas tambahan untuk SK, terutama menyangkut masalah keamanan?
AA: Sementara ini tidak ada.
JI: Apakah SK akan melakukan apapun demi kemaslahatan Ust. Abu?
AA: Ya, apapun akan kami lakukan.
JI: Sejauh mana kira kira persiapan SK ?
AA: Dari segi fisik, kami sudah terbiasa berlatih sehari-hari, dari segi penanaman aqidah inshaAllah kami tidak melalaikannya.
Ketika kami mencoba diskusikan dan sedikit kami singgung bahwa untuk hal ini, mungkin akan menuntut pengorbanan yang tidak ringan, kami mendapatkan jawaban yang mengejutkan sekaligus mengharukan.
(terdiam lama)… inshaAllah, karena ini masalah agama, dan untuk agama, nyawapun harus dikorbankan.
JI: Apa itu artinya hilangnya nyawa pesonil SK lebih ringan ketimbang terbunuhnya Ust. Abu?
AA: ya.
JI: Alasannya?
AA: Karena Ust Abu lebih memiliki ilmu daripada kami santrinya, dan beliau lebih dibutuhkan.
JI: Apa artinya, Kehidupan Ust.Abu lebih maslahat bagi umat walaupun SK harus berkorban nyawa untuk itu semua?
AA: Ya.
Ust Jum`ah Diploma (29) selaku Musyrif  SAPALA KAMUFISA menambahkan bahwa pembentukkan prinsip seperti ini, tidak diperoleh semata-mata dari pembinaan di dalam tubuh SK, akan tetapi kreatifitas santri untuk mencarilah yang mengantarkan mereka kepada kebenaran, biasanya diperoleh dari halaqoh-halaqoh pribadi.
SK sendiri lebih fokus pada skil individu yang dipakai ketika keadaan darurat, seperti survival, read map (peta buta), dan yang lainnya, akan tetapi didasari dengan ruhiyyah jihadiyyah sehingga bernilai ibadah” tambahnya.
Inilah sisi menarik dari intervew kami kali ini, remaja usia 17 tahun sudah memiliki kesadaran berkorban demi perjuangan, jika dibandingkan dengan para ermaja seumuran mereka di luar sana, andaisaja anak-anak kaum muslimin dididik dan dibentuk agar memiliki pola pikir seperti ini.
Selanjutnya Ahmad Ardan (17) menyampaikan pandangan sederhananya akan realita kaum muslimin hari ini “ Al-qur`an dan Islam sudah banyak dilupakan hari ini, terutama oleh para pemuda.”
dan pesan saya bagi para pemuda agar jangan melupakan i`dad (mempersiapkan kekuatan) untuk berjihad, karena kewajibannyapun jelas seperti yang tertera dalam al-anfal ayat 60 dan ancaman bagi yang meninggalkan i`dad tidak ringan yaitu membawa sifat kemunafikan” tambahnya.
Para Nabi memiliki hawariyyun sebagai pembela dalam menghadapi musuh musuh dakwah, para pewaris nabi juga pasti akan menghadapi resiko perjuangan sebagaimana pendahulu mereka menghadapinya, sudah barang tentu Allah juga mengutus para pembela bagi mereka.(muktasim/jurnalislam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar